Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Desember 2009

Ilmu Teknologi Pendidikan


Seminar Teknologi InformatikaKami di Pendidikan.Network memang sangat mendukung perkembangan teknologi di bidang pendidikan tetapi kami juga wajib untuk monitor perkembangan teknologi dan cara melaksanakan dari sisi keuntungan dan kemajuan mutu pendidikan secara rialistik dan holistik. Apakah retorika mengenai peran dan pentingnya teknologi pendidikan dalam kegiatan belajar / mengajar sesuai dengan kenyataan dan keadaan di Indonesia?

Kalau membaca berita mengenai isu-isu di surat kabar:

Puluhan ribu sekolah dalam keadaan rusak atau ambruk termasuk 70% sekolah di DKI Jakarta, 30.000 Desa Belum Teraliri Listrik, dan 55 juta orang tidak memiliki "akses" terhadap sumber air yang aman (Tiap Hari 5.000 Balita Mati karena Diare) dan Korupsi Terjadi di Semua Level Penyelenggara Pendidikan, dan UN Tidak Ciptakan Proses Belajar Kreatif, dan kita perlu Setop Kurikulum Merugikan Siswa, juga 70% Lulusan SMA Tanpa Keterampilan Cari Kerja, dan Kemampuan Guru Harus Ditingkatkan, dan Ribuan Anak Cacat Usia Sekolah Belum Terlayani, dan Pendidikan Berkualitas Hanya untuk Orang Berduit, dan .........

Jelas, kalau kita ingin membuat program untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia kita harus memastikan bahwa strategi-strategi yang direncanakan menghadapi segala macam hal, dan yang di utamakan adalah kebutuhan dasar untuk mengajar dan situasi yang nyaman dan aman di semua sekolah (termasuk listrik/air).

Dengan rasio: "Sekarang Satu Komputer Untuk 2.000 Siswa" dan "dari jumlah total yang mencapai 200.000 sekolah, sekitar 182.500 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA se-Indonesia belum terakses internet", jelas TIK bukan solusinya sekarang, kan?

Komputer-komputer yang ada di sekolah-sekolah umum belum cukup untuk belajar ilmu Teknologi Informasi Komunikasi (TIK), apa lagi menggunakan TIK untuk belajar.

Sabtu, 05 Desember 2009

Algoritma Deret Genap dan Ganjil


22 Jun 2009 @ 9:38

Bismillahi Alhamdulillahirobbil ‘alamiin.

Kali ini penulis akan berbagi tutorial yang berkaitan dengan logika pemrograman.

Sebagai langkah awal, mari kita ingat lagi bagaimana cara menentukan bahwa sebuah bilangan itu termasuk bilangan ganjil atau genap.

Beberapa bilangan ganjil mulai dari 1 – 10, yaitu: 1 3 5 7 9

Sedangkan, beberapa bilangan genap mulai dari 1 – 10, yaitu: 2 4 6 8 10

Dalam bidang matematika, setiap bilangan yang habis dibagi 2 atau tidak bersisa atau menghasilkan angka 0, maka termasuk bilangan genap. Sebaliknya, apabila bilangan tersebut bila dibagi 2 ternyata bersisa 1, berarti ganjil.

Dalam penyimbolan, sisa habis bagi ini sering menggunakan istilah mod atau simbol %.

Dan untuk hasil bagi positif (division), dapat digunakan istilah div atau simbol / atau \ jika menggunakan bahasa pemrograman Visual Basic.

Contoh:

4 div 2 = 2

4 mod 2 = 0 –> genap

5 div 2 = 2

5 mod 2 = 1 –> ganjil

Sekarang kita gunakan ilustrasi.

A div B = C

A mod B = D

Artinya, bilangan C dikali B kemudian ditambah D sama dengan A. Matematisnya, (C x B) + D = A

Sekarang kita gunakan logika pemrograman, atau ada yang sering menyebutnya dengan algoritma pemrograman.

Yang perlu diperhatikan bahwa, penentuan bahwa suatu bilangan itu ganjil atau genap cukup dengan memanfaatkan utilitas sisa hasil bagi atau mod saja, tanpa melibatkan div.

Berikut ini adalah contoh pseudocode dalam bahasa Indonesia.

JIKA A mod 2 = 0 MAKA
     A adalah bilangan genap
SEBALIKNYA
     A adalah bilangan ganjil

Sintaks SEBALIKNYA menandakan bahwa A mod 2 ≠ 0.

Sekarang mari kita gunakan algoritma yang sering dipakai di universitas (bidang komputer/pemrograman).

ALGORITMA GENAP_GANJIL
KAMUS
   A : integer
ALGORITMA
   input ( A )
   if ( A mod 2 = 0 ) then
      output ( "Bilangan Genap" )
   else
      output ("Bilangan Ganjil")
Berikutnya, penulis akan memodifikasi algoritma tersebut di atas.

Yaitu, menentukan bilangan genap atau ganjil dari sederet bilangan secara urut, sekaligus penulis juga mengetahui berapa banyaknya bilangan yang dimunculkan, berapa total (jumlah) dan rata-rata dari bilangan-bilangan tersebut.

Universitas

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Artikel ini bagian dari seri
Pendidikan Formal
di Indonesia
Tut Wuri Handayani.svg

Pendidikan Anak Usia Dini
Taman Kanak-kanak
Raudatul Athfal

Pendidikan dasar (Kelas 1-6)
Sekolah Dasar
Madrasah Ibtidaiyah
Paket A

Pendidikan dasar (Kelas 7-9)
Sekolah Menengah Pertama
Madrasah Tsanawiyah
Paket B

Pendidikan menengah (Kelas 10-12)
Umum:
Sekolah Menengah Atas
Madrasah Aliyah
Paket C

Kejuruan:
Sekolah Menengah Kejuruan
Madrasah Aliyah Kejuruan

Pendidikan tinggi
Akademi
Politeknik
Sekolah Tinggi
Institut
Universitas

Universitas adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Kata universitas berasal dari bahasa Latin yang artinya adalah umum dan menyeluruh,

Sejarah

Universitas barat pertama adalah akademi didirikan pada tahun 387 SM oleh filsuf Yunani Plato, di mana para siswanya diajari filsafat, matematika, dan olah raga.

Universitas Eropa pertama-tama adalah

Institusi seperti universitas ini telah ada di Persia dalam dunia Islam, salah satu yang terkenal adalah Akademi Gundisapur dan juga Universitas Al Azhar di Kairo, yang merupakan universitas tertua di dunia yang masih beroperasi. Salah satu universitas di Asia yang terkenal lainnya adalah Universitas Nalanda di Bihar, India, di mana filsuf Buddha abad ke-2 Nagarjuna berpusat.

Kualitas pendidikan

Ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan, khususnya di Indonesia, yaitu:

  • Faktor internal, meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan. Dalam hal ini,interfensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.
  • Faktor eksternal, adalah masyarakat pada umumnya yang merupakan ikon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan.

Tingkat Pendidikan

Kelas Usia
Taman Kanak-kanak
Kelompok Bermain 4
Kelompok A 5
Kelompok B 6
Sekolah Dasar
Kelas 1 7
Kelas 2 8
Kelas 3 9
Kelas 4 10
Kelas 5 11
Kelas 6 12
Sekolah Menengah
Pertama
Kelas 7 13
Kelas 8 14
Kelas 9 15
Atas
Kelas 10 16
Kelas 11 17
Kelas 12 18
Akademi/Institut/Politeknik/Sekolah Tinggi/Universitas
4 tahun(Sarjana) berbagai usia
2 tahun(Magister) berbagai usia
3 tahun(Doktor) berbagai usia

Kamis, 03 Desember 2009

Guru SMAN 82 Terbelah Sikapi Insiden "Jalur Gaza"

Rabu, 11 November 2009 - 12:11 wib
text TEXT SIZE :
Muhammad Saifullah - Okezone
Salah satu sudut di SMAN 82, Jakarta (Foto: kaskus)

JAKARTA - Insiden Jalur Gaza di SMAN 82 memunculkan respons beragam dari para staf pengajar. Satu kubu mendukung agar para pelaku diproses secara hukum.

Adapun pihak lain menginginkan agar kasus ini diredam sehingga nama baik sekolah tetap terjaga. "Info terakhir di internal sekolah ada dua kubu. Yang pro dan kontra," ujar alumnus SMAN 82 Bebi Apriliani saat berbincang dengan okezone di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selaku alumnus, Debi mengaku kecewa dengan insiden yang menimpa Ade Fauzan Mahfuza (15). Kekerasan fisik yang dialami siswa kelas I itu selayaknya tak perlu terjadi, apabila semua pihak menjalankan perannya dengan benar. "Saya sedih dengan almamater. Di pintu masuk kan sudah ada plang besar bertuliskan anti-bullying. Tapi faktanya kekerasan tetap saja terjadi," sesal dia.

Sementara itu, para staf pengajar di SMAN 82 bungkam ketika dikonfirmasi. Saat okezone bertandang ke SMAN 82 tidak ada yang bersedia memberikan komentar. Mereka bahkan menyuruh wartawan okezone menunggu tanpa kepastian. Seorang staf pengajar yang menyambut bahkan terkesan mem-ping-pong wartawan. "Pak Waka Kurikulum masih mengajar silahkan ke bagian humas atau kepala sekolah," ujarnya setelah sebelumnya menyuruh menunggu selama 30 menit.

Ironisnya saat sarannya diikuti, dia menolak mengantarkan okezone menemui bagian humas atau kepala sekolah. Guru lain yang ditanya mengaku tidak tahu ruangan humas dan kepala sekolah. "Ke sana saja, saya gak tahu apa-apa," kilahnya lantas berlalu pergi.

Guru BP SMAN 82 Gozali ketika dikonfirmasi menolak memberikan komentar terkait insiden Jalur Gaza. Dia beralasan tidak memiliki wewenang memberikan penjelasan kepada pihak luar. "Dengan Bapak Waka Kurikulum saja ya," ungkap dia.

Para siswa yang ditanya mengenai musibah yang menimpa Ade juga bersikap seragam. Mereka memilih menghindar dengan alasan tidak tahu apa-apa. "Saya gak tahu mas," ujar salah seorang siswa yang ditemui di parkir SMAN 82.

Ade mengaku sempat didatangi rekan dan para gurunya di RS Pusat Pertamina. Menurut Ade, beberapa guru menawarkan damai dengan orangtuanya. Namun permintaan itu ditolak. "Mama gak mau damai," tegasnya.

Sementara itu, sejumlah alumnus SMAN 82 mendesak agar pihak sekolah memproses kasus ini ke ranah hukum. Para pelaku harus mendapatkan hukuman setimpal agar memunculkan efek jera. Desakan agar Jalur Gaza dihapus juga bermunculan dari para alumni. "Kita menggalang dukungan lewat Facebook," ujar Bebi.

Alumnus SMAN 82 angkatan 1999, Arif ketika dikonfirmasi menyatakan memang ada sejumlah konvensi di tempatnya mengenyam pendidikan itu. Salah satunya adalah larangan bagi anak kelas I dan II melewati koridor di depan ruang kelas III. ?Selain itu, anak kelas I dan II tidak boleh bawa mobil. Untuk yang cewek juga dilarang memakai rok di atas lutut,? ungkap dia.

Arif bahkan mengaku pernah menjadi korban dari para seniornya. Dirinya sempat dibawa menggunakan mobil oleh para seniornya karena melanggar salah satu konvensi di SMAN 82. Namun dia tidak sampai dipukuli. "Biasanya anak kelas III juga melihat, apakah juniornya itu tengil atau gak? Kalau keterlaluan ya biasanya dikasih pelajaran. Tapi kalau tidak, ya aman-aman saja," ujarnya.

Menyikapi musibah yang menimpa Ade, Arif menyatakan ikut prihatin. Namun dia berharap agar persoalan itu bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Pertimbangannya para pelaku sebentar lagi harus mengikuti ujian nasional. "Ke polisi boleh, tapi harus dijadikan sarana mediasi saja. Jangan sampai mereka dipenjara. Kan kasihan sebentar lagi ujian," pungkas dia. (ful)(ahm)